Bukannya Gagal Move On, Ini Manfaat “Melihat Ke Belakang”

move on

CRonaldo dan Messi. Yang satu pemain terbaik dunia. Yang satu dari planet lain. Berjalan dengan tunduk, menatap anak tangga menuju pesawat yang akan membawa mereka “mudik” ke kampung halaman masing-masing.

Untuk urusan laga internasional, 2 sejoli ini memang hanya mampu menjadi penggembira. Baik Portugis, eh, Portugal, maupun Argentina tidak pernah menyicipi trofi tingkat dunia. Apa gunanya jadi pemain terbaik dunia jika tidak pernah juara piala dunia?

Usia sudah 33 dan 31. Dalam ukuran pemain sepak bola, ini sudah masuk kategori STW. Walaupun masih prima, entah sampai kapan tubuh mereka mampu mengolah bola menghidupkan permainan dan menghasilkan gol.

Secara matematika, usia mereka sudah hampir impossible untuk meraih piala dunia berikutnya. Mereka akan menjadi 37 dan 35. Jika kini saja mereka tidak berhasil, apalagi nanti?

Lalu apa yg ada dalam pikiran mereka?

“Aku gagal”

“Sirna sudah peluang ku juara piala dunia”

“Mengapa nasibku gini amat?”

Entahlah.

***

Dalam kendaraan, kita berkendara menatap kedepan, sambil melihat panel yang ada di dashboard mobil. Namun kita perlu sesekali melihat kaca spion.

Dalam hidup, kita perlu punya tujuan (future), menikmati hidup saat ini (present) dan sesekali menengok ke belakang (past).

Ada orang yang hidup terlalu banyak menengok ke belakang sehingga tidak bergerak maju. Tapi ada juga yang hidup tidak pernah menengok ke belakang sama sekali.

Mengapa menengok ke belakang itu penting?

Untuk 2 hal:

1. Belajar dari kesalahan

2. Mensyukuri apa yang kita (pernah) punya

Jika tidak pernah menengok ke belakang, jangan-jangan kita tidak pernah belajar dari kesalahan, atau tidak pernah bersyukur? Selalu ingin nya mendapatkan sesuatu, mengejar keinginan, tanpa menghargai apa yang sudah di dapat.

Mungkin cerita paling inspiratif yang dapat kita ambil pelajaran adalah kisah Nabi Ayub.

Belio tadinya orang kaya raya punya istri dan anak yg banyak. Hidup penuh dengan keberkahan. Lalu Allah menurunkan ujian dengan menghapus semua harta kekayaan, mengambil anak-anak, hingga mencabut kesehatan nya.

Namun bagaimana belio menyikapinya?

“Allah sudah memberi saya nikmat tak terhingga selama 70 tahun, apa yang aku rasakan sekarang tentu tidak ada banding dengan nikmat yang pernah aku terima”

***

CRonaldo dan Messi memang tidak berjaya di kancah internasional, tapi untuk level liga domestik mereka sudah dapat semua. Juara liga, juara champions, juara piala, hingga gelar pemain terbaik dan pencetak gol terbanyak.

Tidak ada alasan untuk menyesali apa yang tidak mereka dapat, cukup mensyukuri apa yang sudah dicapai. Rezeki sudah ada yang atur, mungkin rezeki piala dunia akan diberikan kepada yang lebih membutuhkan.

Jangan-jangan kalau semua trofi dicapai, malah akan jadi orang yang sombong?

Sudahkah kita menengok ke belakang?

Artikel Terkait
Work From Home (Wfh) Dinilai Belum Efektif, Lantas Apa Solusinya?

Situasi pandemi Covid-19 ini mengakibatkan sebagian perusahaan di seluruh dunia menerapkan kebijakan Work From Home (WFH). Sejatinya Read more

Tips Singkat Menjadi Trainer Yang Baik

Saya senang menghadiri acara seminar dan training sejak 15 tahun yang lalu. Dan 10 tahun Read more

Ternyata, Setiap Orang Bisa Menjadi Pemimpin Lho!

Sudah kita bahas pada tulisan-tulisan yang lalu, bahwa setiap orang unik dengan bakatnya masing-masing. Dan Read more

Setiap Orang Itu Bertalenta, Temukan Bakatmu Sekarang!

Setiap manusia, tanpa terkecuali, sudah dikaruniai bakat oleh Tuhan Yang Maha Esa. Namun seringkali bakat Read more

0 Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

© 1993-2022 Performa Indonesia

Log in with your credentials

Forgot your details?