Pentingnya Sikap Proaktif Di Dunia Kerja

Banyak yang menyampaikan sulitnya mencari kerja, digantung oleh recruiter. Sebaliknya recruiter juga merasa ada beberapa oknum job seeker yang “kurang serius”.

Ada juga yang menyampaikan soal politik di kantor. Bagaimana menghadapi orang yang memiliki tingkat integritas yang berbeda.

Beberapa juga menyampaikan sistem penilaian kinerja yang tidak objektif. Remunerasi yang tidak adil. Dan lain sebagainya.

Saya sendiri sebetulnya punya banyak curhatan yang bisa disampaikan mengenai masalah-masalah yang saya hadapi sehari-hari. Bisa curhat bareng juga kita 😀

Tapi kali ini saya mohon izin untuk review materi lawas dari Stephen Covey di bukunya yang fenomenal yaitu “7 Habits of Highly Effective People“.

Habit #1 Sikap Proaktif.

Dari 7 kebiasaan yang dimiliki oleh orang-orang sukses, prinsip pertama yaitu mereka punya kebiasaan proaktif.

Untuk memahami hal ini, Stephen Covey membuat sebuah ilustrasi yang kita kenal dengan “lingkaran kecil-lingkaran besar”. Enam, enam, tiga puluh enamEnam, enam, diberi sudut. Eh, bukan lagu yang itu 😀

Lingkaran kecil dan lingkaran besar bisa kita lihat di gambar dibawah ini.

Lingkaran kecil (yang ditengah) disebut sebagai circle of influence. Lingkaran yang besar disebut sebagai circle of concern.

Kita bahas ya.

Sebentar… Mau minum dulu… Haus…

….

Oke, kita balik. Terima kasih sudah menunggu.

Nah, dalam hidup kita sering dihadapkan pada banyak hal, banyak situasi, banyak masalah. Sebagian kecil adalah apa yang teman-teman sudah bagikan di laman LinkedIn saya. Tapi saya yakin masih banyak lagi hal lain yang tidak tersurat. Dan nggak (akan) ada habisnya. Berapa lapis? Ratusan… Lebih! (Iklan ini tidak disponsori oleh Wafer T*ngg*)

Lanjut. Dari sekian banyak hal yang kita hadapi setiap hari, kita perlu pilah menjadi 2 kategori. Yaitu hal-hal yang ada dalam kendali kita (circle of influence) dan hal-hal yang menjadi diluar kendali kita (circle of concern).

Apa saja contoh hal-hal yang dalam kendali kita?

Diri kita sendiri, kompetensi, emosi, keuangan, perencanaan, kemampuan menyikapi suatu hal, adalah contoh dari apa yang ada dalam kendali kita.

Orang lain, jalanan, kemacetan, politik, ekonomi, sosial, teknologi, legal, environment (kalau disingkat PESTLE, loh kok malah bahas analisa eksternal strategi bisnis!) adalah contoh dari apa yang diluar kendali kita.

Nah, kalau kita kembali kepada diagram lingkaran kecil-lingkaran besar, jika kita fokus pada lingkaran besar (circle of concern, hal-hal yang ada diluar kendali kita) maka perlahan akan membuat lingkaran kecil (circle of influence, hal-hal yang ada dalam kendali kita) mengecil. Sehingga kita semakin kerdil. Sikap ini disebut dengan sikap Reaktif. Yaitu kita bereaksi atas apa yang terjadi di luar diri.

Sedangkan sikap Proaktif artinya kita fokus pada apa yang kita punya, and do something about it. Jika kita fokus pada lingkaran kecil, maka perlahan-lahan lingkaran itu akan membesar. Sehingga area yang tadinya masuk dalam kategori lingkaran besar, lama-lama akan menjadi area lingkaran kecil kita.

Oleh karena itu, dalam menghadapi masalah yang tidak ada habisnya itu. Kita coba lihat ke dalam diri. Fokus. Lihat apa yang kita punya. Lihat kelebihan kita. Lihat apa yang kita kuasai, nikmati, apa yang kita lakukan lebih baik dari orang lain.

Contoh: Susah cari kerja.

Pertama kenali dulu kita punya kekuatan apa, lalu cari pekerjaan yang memang cocok dengan kekuatan kita. Kalau senang matematika, boleh masuk keuangan, jangan desain grafis! Sebaliknya, orang seni jangan cari pekerjaan di akuntansi.

Seringkali kita cari pekerjaan yang “gajinya besar”, “perusahaan bonafid”, atau “sesuai dengan background pendidikan”. Saya juga gitu kok sama, nggak munafik. Tapi jangan-jangan, harapan kita itu nggak match dengan apa bekal yang kita punya. Coba eksplorasi tipe pekerjaan lain yang mungkin lebih sesuai.

Salah satu tips yang akan saya sangat rekomendasikan adalah, carilah perusahaan kecil. Cari bisnis lokal yang sudah berdiri cukup lama. Tapi masih dikelola dengan gaya “rumahan”. Datangi, ajak kenalan pemiliknya. Tanya bagaimana kemajuan bisnisnya, apa masalah yang sedang dia hadapi. Kalo kebetulan masalah dia itu cocok dengan keahlian kita, jual diri deh. Maksudnya ngelamar disitu. Dan belum tentu ini sesuai dengan jurusan kita.

Percaya deh, kita akan lebih cepat mempelajari pekerjaan yang kita sukai walaupun tidak kuliah dibidang itu. Kemudian fokus memberikan kinerja yang maksimal. Begitu kita punya prestasi, CV yang akan meneriakkan nama kita. Perusahaan besar yang cari kita!

Sekarang sudah jaman digital. Bowo aja bisa terkenal cuman gara-gara tiktok. Buat meet & greet dia masang tarif 80 ribu! Jangan dicontoh bowo nya ya, tapi diambil inspirasi bahwa dijaman digital kita bisa berkreasi dengan modal hanya hape.

Kita punya keahlian apa? Fotografi? Photo editing? Video editing? Masak? Main futsal? Bikin deh video tutorial, artikel. Pasang di social media kita.

Lah saya ini nulis artikel buat apa? Ya buat berbagi kali aja ada yang dapat manfaat dari tulisan-tulisan saya. Selain itu, kali aja ada Bapak Ibu yang lagi butuh jasa konsultasi dan training seputar pengembangan SDM dan organisasi bisa gunakan jasa saya dan tim 😀

Oke balik ke laptop.

Kalau kita punya masalah dengan pekerjaan, jangan buru-buru menyalahkan atasan atau perusahaan. Lihat dulu kompetensi dan kinerja kita. Sudah maksimal belum? Ingat, kompetensi itu ada hard / technical, ada soft / leadership. Mungkin kita hebat dalam teknikal, tapi kita nggak bisa komunikasi, nggak gaul, nggak bisa memimpin, ya pasti akan kalah sama yang kinerjanya biasa aja tapi jago dalam membangun hubungan.

Oke kalau gitu kita fokus tingkatkan kemampuan interpersonal skills kita. Karena ini adalah apa? Hal-hal yang…. ada…. dalam… ken… da… li… kita Bapak Ibu!

Saya pernah bekerja di sebuah perusahaan yang kultur nya buruk. Kinerja saya sama sekali nggak terlihat. Padahal hasilnya nyata. Menguap begitu saja bagai keringat kuda. Orang-orangnya? Kalau lapar bisa makan orang! Lalu bagaimana saya menyikapinya dengan sikap proaktif? Ini saya jadikan ajang untuk melatih manajemen qolbu. Kesabaran. Keikhlasan.

Hasilnya apa? Saya menjadi pribadi yang jauh lebih sabar, tenang dan santai dalam menghadapi masalah. Hidup rasanya ya jadi lebih enjoy. Karena saya pernah bekerja di perusahaan yang budayanya agak kurang menyenangkan. Saya fokus ama apa yang bisa saya kontrol, yaitu emosi saya.

Nah, sekarang saya mau ajak Bapak Ibu untuk melihat masalah yang sedang dihadapi sekarang.

Kemudian pilah, apa yang menjadi lingkaran kecil, apa yang menjadi lingkaran besar.

Lalu dari lingkaran kecil itu, apa yang bisa kita fokuskan? Perbaiki? Tingkatkan?

Abaikan dulu masalah lain! Fokus bangun apa yang ada dalam lingkaran itu. Sehingga suatu saat nanti, lingkaran akan membesar dan dapat mencakup hal-hal yang tadi nya ada di lingkaran besar.

Kurangi baca berita negatif. Baca status negatif. Mikirin mantan #loh.

Dan rasakan kalau sebulan-dua bulan-tiga bulan kita fokus ama lingkaran kecil, pasti Bapak Ibu akan merasakan dampaknya.

Semoga Bermanfaat,

Artikel Terkait
Work From Home (Wfh) Dinilai Belum Efektif, Lantas Apa Solusinya?

Situasi pandemi Covid-19 ini mengakibatkan sebagian perusahaan di seluruh dunia menerapkan kebijakan Work From Home (WFH). Sejatinya Read more

Tips Singkat Menjadi Trainer Yang Baik

Saya senang menghadiri acara seminar dan training sejak 15 tahun yang lalu. Dan 10 tahun Read more

Ternyata, Setiap Orang Bisa Menjadi Pemimpin Lho!

Sudah kita bahas pada tulisan-tulisan yang lalu, bahwa setiap orang unik dengan bakatnya masing-masing. Dan Read more

Setiap Orang Itu Bertalenta, Temukan Bakatmu Sekarang!

Setiap manusia, tanpa terkecuali, sudah dikaruniai bakat oleh Tuhan Yang Maha Esa. Namun seringkali bakat Read more

0 Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

© 1993-2022 Performa Indonesia

Log in with your credentials

Forgot your details?