7 Tanda Budaya Perusahaan Kurang Baik, Ada Dampaknya!

7 Tanda Budaya Perusahaan Kurang Baik, Ada Dampaknya!

Budaya perusahaan yang kurang baik dapat berdampak negatif bagi karyawan yang bekerja di dalamnya. Budaya perusahaan adalah nilai-nilai yang dianut atau kebiasaan yang diterapkan di tempat kerja. Ada beberapa budaya perusahaan yang tanpa disadari menjadi tekanan bagi karyawan.

Bekerja di perusahaan yang melanggengkan budaya buruk pasti tidak menyenangkan. Karier tidak berkembang dan pekerjaan menjadi beban yang berat. Di sisi lain, perusahaan bisa rugi karena karyawan tidak bekerja secara optimal. Apa saja tanda budaya kurang baik dalam perusahaan?

Sumber : Envato

  1. Selalu Mengungkit Kesalahan

Salah satu budaya buruk dalam perusahaan adalah selalu mengungkit kesalahan yang pernah terjadi. Tindakan ini bisa saja dilakukan oleh manajer atau atasan maupun rekan kerja dalam satu tim. Walaupun karyawan telah berubah menjadi lebih baik, kesalahan yang diperbuat sebelumnya masih sering menjadi bahan penilaian.

Dalam perusahaan yang membiarkan budaya seperti ini, karyawan tidak akan berkembang dengan mudah. Kesalahan tersebut akan selalu dikaitkan dengan pencapaiannya pada masa sekarang. Apabila kondisi yang sama terus terjadi, karyawan akan kehilangan rasa percaya diri dan tidak produktif.

  1. Penilaian Karena Kedekatan

Menjalin relasi dengan sesama rekan kerja atau atasan bukan hal yang salah. Bahkan, sikap ini diperlukan untuk membangun iklim yang hangat dan menyenangkan di tempat kerja. Namun, ada saja pekerja yang membangun kedekatan karena memiliki niat tertentu, misalnya agar dipromosikan lebih cepat.

Dalam perusahaan dengan budaya kerja yang tidak sehat, faktor kedekatan menjadi bahan penilaian kinerja. Akibatnya, penilaian tidak objektif. Karyawan yang benar-benar memiliki prestasi justru tidak memperoleh apresiasi yang seharusnya. Situasi ini dapat membuat karyawan malas untuk bekerja secara optimal.

  1. Manajemen Menormalisasi Kebohongan

Salah satu budaya perusahaan yang kadang kala masih dijalankan adalah normalisasi kebohongan. Kebohongan bisa dilakukan terhadap pihak eksternal maupun internal perusahaan. Kebohongan tersebut diperbolehkan bahkan dianjurkan demi keuntungan perusahaan.

Menormalisasi kebohongan dapat menjadi budaya yang melekat dan dianggap wajar. Dalam kondisi tertentu, para karyawan terpaksa harus ikut menjadi pelaku yang berbohong atau menutupi kebohongan. Bukan hanya pihak manajemen, kebiasaan berbohong juga dapat dilakukan oleh sesama rekan kerja untuk mencari keuntungan sendiri. Akibatnya, suasana di tempat kerja penuh dengan unsur ketidakpercayaan.

  1. Overtime Terus-Menerus

Overtime atau lembur perlu dilakukan apabila beban pekerjaan sedang banyak atau ada kondisi khusus yang harus segera ditangani. Overtime seharusnya tidak dilakukan terus-menerus karena dapat mengganggu keseimbangan antara kehidupan pribadi karyawan dengan pekerjaan. 

Overtime juga bisa terjadi karena pengelolaan pekerjaan kurang baik atau jumlah karyawan tidak sebanding dengan beban kerja. Bahkan, ada pula overtime yang tidak dibayar atau dilakukan secara cuma-cuma dan terpaksa oleh karyawan. Budaya kerja seperti ini dapat merugikan karyawan. Di sisi lain, karyawan akan kehabisan energi dan dapat berakibat hilangnya ide-ide segar. 

  1. Manajemen Bersikap Otoriter

Dalam menjalankan perusahaan, pihak manajemen memiliki kuasa dan wewenang untuk menegakkan aturan yang berlaku. Apabila ada karyawan yang melanggar aturan, perusahaan dapat melakukan penindakan yang sesuai dengan bobot kesalahan. 

Namun, sering kali perusahaan bersikap otoriter dalam menjalankan wewenang tersebut. Tanpa memberi kesempatan bagi karyawan untuk membela diri atau menjelaskan tindakannya, hukuman langsung dijatuhkan. Budaya perusahaan seperti ini dapat berakibat pemberontakan dari karyawan, baik secara diam-diam maupun frontal.

  1. Teguran yang Tidak Profesional

Karyawan yang melakukan kesalahan layak untuk ditegur. Namun, teguran tersebut perlu dilakukan dalam batas dan metode yang benar. Dalam tim kerja, apabila ada karyawan yang bersalah, atasan perlu memberikan teguran secara personal dan profesional. 

Namun, ada atasan yang bersikap emosional, penuh intimidasi, dan memperlakukan bawahan secara tidak manusiawi saat menyampaikan teguran. Hal ini biasanya dilakukan oleh atasan bertipe Authoritarian. Ada juga bentuk teguran yang tidak masuk akal atau berlebihan walaupun kesalahan yang diperbuat bukan hal esensial. 

Hal ini kadang-kadang terjadi karena faktor ketidaksukaan terhadap individu tertentu. Akibatnya, penilaian menjadi tidak objektif dan kerap merugikan karyawan yang bersangkutan. Karyawan yang mengalaminya bisa saja merasa sakit hati dan malas bekerja.

  1. Budaya Perusahaan Tanpa Apresiasi

Bukan hanya memberikan sanksi atau denda terhadap karyawan yang melakukan kesalahan atau pelanggaran, apresiasi juga diperlukan. Apresiasi dapat diberikan kepada karyawan yang berprestasi dari segi kinerja. Bentuk apresiasi tersebut bermacam-macam, misalnya bonus uang atau promosi jabatan.

Namun, ada perusahaan yang tidak terbiasa memberikan apresiasi terhadap karyawan. Bakat atau kerja keras tidak dihargai dengan semestinya. Ini dapat mengurangi motivasi karyawan untuk bekerja dengan optimal dan secara tidak langsung berpengaruh terhadap kemajuan perusahaan.

Nah, inilah beberapa tanda yang menunjukkan budaya perusahaan kurang baik. Bukan hanya berdampak terhadap karyawan, kondisi tidak ideal ini dapat merugikan perusahaan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Anda bisa memanfaatkan layanan Performa. Melalui jasa konsultasi yang tersedia, Anda akan menemukan solusi yang tepat dalam menangani masalah yang terjadi.

Subscribe And Follow Us

Be part of the story and follow us on Instagram via @performaconsulting and subscribe to the newsletter for news and updates about our insights